Monday, April 20, 2015

Manusia & Kebudayaan

Salah satu yang menjadi cakupan pembahasan IBD adalah tentang “Manusia & Kebudayaan”.  Manusia sebagai makhluk yang monopluralis memiliki kecenderungan untuk bersosialisasi dengan manusia yang lain dan alam yang ada di sekitarnya,  hasil dari interaksi antara manusia juga dengan alam yang dilakukan terus-menerus akan dianggap sebagai suatu yang mendarah daging yang selanjutnya disebut budaya, itulah kenapa manusia dan kebudayaan tidak bisa didikotomikan antara satu dengan lainnya dan karena Ilmu Budaya Dasar adalah ilmu yang membahas lebih lanjut tentang kebudayaan dan subjectnya, maka “Manusia & Kebudayaan” termasuk salah satu pembahasan IBD.

            Ketika kita membahas manusia dan kebudayaan, terutama yang terjadi di Negara kita Indonesia, maka akan banyak sekali permasalahan yang timbul berkaitan dengan hal tersebut, yang akan kita angkat sekarang adalah tentang arus globalisasi yang tidak bisa terbendung.

            Globalisasi yang arusnya tidak bisa dibendung, apalagi di era digital seperti saat ini, membawa dampak positif dan dampak negative bagi kita warga Indonesia, khususnya di bidang kebudayaan. Dampak positif dari hal tersebut tidak sebanyak dampak negatifnya dilihat dari sisi kebudayaan sebagai objeknya, salah satu dampak positif yang bisa kita lihat adalah munculnya cara yang lebih inovatif untuk melestarikan budaya kita lewat penyebarannya di social media, tetapi hal positif tersebut agaknya jauh tidak berbanding penyebarannya dan doktrinnya jika dibandingkan dengan arus budaya mancanegara yang masuk ke Indonesia, dalam hal ini yang dini ini paling popular adalah budaya korea selatan yaitu K-Pop dan drama korea.  Budaya korea yang disuguhkan hamper setiap hari dan pengaksesannya yang dipermudah oleh pemerintah serta pembungkusannya yang modern dan menarik membuat minat masyarakat kita(dalam hal ini pemuda) teralihkan dari mempelajari budaya sendiri dan melestarikannya malah asyik mendalami budaya korea tersebut. Hal tersebut sangat ironi, bayangkan saja jika hal tersebut terus saja seperti itu dan tidak diberikan solusi yang tepat, bisa jadi beberapa tahun lagi, para penerus kita tidak akan mengetahui apa itu yang disebut permainan galasin dan benteng atau tidak lagi hafal lagu-lagu daerah seperti tokecang dan manuk dadali dari jawa barat.

            Dari uraian di atas, kita bisa mengambil kesimpulan kenapa pembahasan tentang “Manusia & Kebudayaan” menjadi salah satu yang dipelajari di IBD karena kita para mahasiswa sebagai agent of change setelah mempelajari hal ini diharapkan bisa muncul dengan membawa solusi agar masyarakat khususnya para pemuda tetap bisa mencintai dan mempelajari juga melestarikan budaya kita sendiri agar budaya yang pernah ada akan terus ada dan tidak sirna atau diakui oleh Negara lain.


            

No comments:

Post a Comment