Manusia & Kebudayaan
Salah satu
yang menjadi cakupan pembahasan IBD adalah tentang “Manusia &
Kebudayaan”. Manusia sebagai makhluk
yang monopluralis memiliki kecenderungan untuk bersosialisasi dengan manusia
yang lain dan alam yang ada di sekitarnya,
hasil dari interaksi antara manusia juga dengan alam yang dilakukan
terus-menerus akan dianggap sebagai suatu yang mendarah daging yang selanjutnya
disebut budaya, itulah kenapa manusia dan kebudayaan tidak bisa didikotomikan
antara satu dengan lainnya dan karena Ilmu Budaya Dasar adalah ilmu yang
membahas lebih lanjut tentang kebudayaan dan subjectnya, maka “Manusia &
Kebudayaan” termasuk salah satu pembahasan IBD.
Ketika
kita membahas manusia dan kebudayaan, terutama yang terjadi di Negara kita
Indonesia, maka akan banyak sekali permasalahan yang timbul berkaitan dengan
hal tersebut, yang akan kita angkat sekarang adalah tentang arus globalisasi
yang tidak bisa terbendung.
Globalisasi
yang arusnya tidak bisa dibendung, apalagi di era digital seperti saat ini,
membawa dampak positif dan dampak negative bagi kita warga Indonesia, khususnya
di bidang kebudayaan. Dampak positif dari hal tersebut tidak sebanyak dampak
negatifnya dilihat dari sisi kebudayaan sebagai objeknya, salah satu dampak
positif yang bisa kita lihat adalah munculnya cara yang lebih inovatif untuk
melestarikan budaya kita lewat penyebarannya di social media, tetapi hal
positif tersebut agaknya jauh tidak berbanding penyebarannya dan doktrinnya
jika dibandingkan dengan arus budaya mancanegara yang masuk ke Indonesia, dalam
hal ini yang dini ini paling popular adalah budaya korea selatan yaitu K-Pop
dan drama korea. Budaya korea yang
disuguhkan hamper setiap hari dan pengaksesannya yang dipermudah oleh
pemerintah serta pembungkusannya yang modern dan menarik membuat minat
masyarakat kita(dalam hal ini pemuda) teralihkan dari mempelajari budaya
sendiri dan melestarikannya malah asyik mendalami
budaya korea tersebut. Hal tersebut sangat ironi, bayangkan saja jika hal
tersebut terus saja seperti itu dan tidak diberikan solusi yang tepat, bisa
jadi beberapa tahun lagi, para penerus kita tidak akan mengetahui apa itu yang
disebut permainan galasin dan benteng atau tidak lagi hafal lagu-lagu daerah
seperti tokecang dan manuk dadali dari jawa barat.
Dari
uraian di atas, kita bisa mengambil kesimpulan kenapa pembahasan tentang
“Manusia & Kebudayaan” menjadi salah satu yang dipelajari di IBD karena
kita para mahasiswa sebagai agent of
change setelah mempelajari hal ini diharapkan bisa muncul dengan membawa
solusi agar masyarakat khususnya para pemuda tetap bisa mencintai dan
mempelajari juga melestarikan budaya kita sendiri agar budaya yang pernah ada
akan terus ada dan tidak sirna atau diakui oleh Negara lain.
No comments:
Post a Comment